Video Tarian Doa Untuk Paramedis Covid-19, Tubuh Dalam Ruang Virtual

Covid-19: Tentara Medis, Doa Kami Untukmu

620
Tubuh dalam Ruang Virtual. Pertunjukan seni yang biasa dapat di nikmati diruang-ruang pertunjukan baik di ruang terbuka ataupun tertutup menjadi sepi, bahkan para seniman dan yang bekerja di sektor industri pertunjukan langsung mengalami penurunan dratis.
Banyak agenda-agenda skala kecil atau besar ditunda tanpa kejelasan waktu, berhenti total akibat Pandemi Covid-19. Seniman dan hampir semua orang harus bekerja “Work From Home” secara virtual.
Video Tarian Doa Untuk Paramedis
Video tarian doa untuk Paramedis
Secara tidak langsung kebijakan ini mendatangkan konsekuensi baik secara fisik dan mental, ekonomi serta gejala sosial lainnya.
Tingkat kerentanan fisik-mental sangat tinggi, karena ruang gerak menjadi terbatas, sekaligus media banyak membombardir berita-berita yang membuat orang takut, internet menjadi ruang virtual yang semakin tidak terkontrol.
Berbicara ruang gerak, ketika pemerintah menerapkan #dirumahsaja atau WFH (Work from Home) bagi sebagian seniman ruang seolah menjadi sempit kembali, Padahal seniman dan para pekerja seni ruang jelajahnya sangat luas dalam berekspresi.
LIHAT VIDEONYA:

Seniman menjadi yang terdampak, para pekerja seni pun beralih profesi sementara.
Namun ada hal yang menarik bagi sebagian seniman dalam hal ekspresi, ruang tidak menjadi persoalan yang pelik justru keterbatasan ruang menjadi tantangan tersendiri dalam mengaktualisasikan ide dan gagasan menjadi sebuah karya.
Salah satunya adalah Alfiyanto sebagai seniman tari kontemporer. Ditengah pandemi Covid-19 tak membuatnya berdiam diri, walaupun beberapa agenda pertunjukan berskala Nasional banyak yang di pending, dan kegiatan mengajar sebagai dosen harus di remote dari rumah juga.
Tetapi beberapa karyanya mengalir secara virtual diruang sosial media seperti facebook, youtube dan instagram walaupun hanya dengan durasi pendek, padahal biasanya dalam pertunjukan-pertunjukan yang ditonton langsung durasinya bisa sangat panjang, dengan para penari yang cukup banyak.
Hari itu, dimana hujan mengguyur halaman rumahnya yang begitu deras, jemuran yang dibiarkan basah, kursi dan meja tetap basah, bahkan laptop dan asbak juga basah.
Tubuh Alfiyanto bergerak di tengah intensitas hujan yang deras dan angin tetap bergerak meniup jemuran dan pohon-pohon sekitar.
Tubuhnya yang dibalut kain putih, rambut yang memutih tetap mengikuti ritme curahan hujan ditambah nyanyian dan efek petir.
Sesekali memainkan laptop seperti mengetik, kemudian diangkat diatas kepalanya dengan mimik wajah yang tak begitu menikmati guyuran hujan sepanjang pertunjukan tidak seperti anak-anak pada umumnya ketika menikmati hujan yang selalu riang gembira.
Tangan dan tubuhnya terkadang bergerak ritmis seolah larut dalam bulir-bulir hujan dan tiupan angin.
Itu merupakan gambaran singkat dalam karya “Tentara Medis, Do’a Kami Untukmu” yang berdurasi 5 menit 48 detik yang di bagikan di facebook ataupun kanal Youtube Wajiwa Dance Center.
Lantas apa sesungguhnya makna di balik pertunjukan tersebut, apa gagasan yang ingin disampaikan kepada publik, kenapa harus lewat tarian padahal lewat verbal juga bisa jika ingin memberi dukungan pada para petugas medis di tengah gelombang pandemi Covid-19 secara global.
Kenapa set pertunjukannya harus ketika curah hujan, kenapa harus laptop, kenapa jemuran tidak di angkat, dan sekelumit pertanyaan yang membuat kita bertanya-tanya.
Ya memang kontemporer banyak menghadirkan pemaknaan yang sangat dalam, bukan hanya sekedar mengenai bentuk tetapi apa yang terkandung dalam bentuk-bentuk yang disajikan.
Penyajian seperti ini barang tentu dari hasil pembacaan apa yang dilakukan oleh Alfiyanto terhadap persoalan kerja-kerja yang dilakukan oleh petugas medis dilapangan, kemudian di agregat menjadi sebuah karya yang tidak lain sebagai daya ungkap estetik sebagai seniman.
Mungkin cara-cara ini bagi sebagian masyarakat awam sangat absurd agak sulit dipahami mengenai karya kontemporer seperti ini.
Kerja tenaga medis dan relawan pencegahan covid-19 bukan tanpa resiko, tetapi kerja seperti ini bukan hanya kewajiban tugas tetapi panggilan jiwa dan negara.
Padahal kalau kita lihat mereka juga punya keluarga seperti kita. Tetap bekerja ditengah guyuran “hujan” pandemi covid-19 yang artinya penuh dengan resiko, bagaimana para tentara tenaga medis ini harus mampu menyelamatkan “jemuran” walau basah tetapi dapat diselamatkan dan bisa kembali dipakai.
Artinya berjibaku merawat orang-orang agar bisa kembali kerumah masing-masing dengan aman dan nyaman.
Artinya juga kita yang berada dirumah harus tetap memberikan daya dukung dan apresiasi terhadap kerja-kerja para petugas medis, sekaligus kita tetap harus membantu mereka dengan tetap berada dirumah dengan segala persoalan dan kreatifitas masing-masing.
Alfiyanto tidak sendirian dalam karya tersebut, tetapi berkolaborasi juga secara virtual dengan seorang musisi dari Jakarta Armen Aqick.
Musik dan liriknya semakin menguatkan pesan yang ingin disampaikan lewat tubuh dan bunyi. Armen Aqick juga menangkap hal yang sama atas persoalan yang dihadapi, sebagai seniman mendukung secara moral lewat kerja kolektif seperti ini dipandang perlu sebagai motivasi dan apresiasi terhadap tenaga medis sekaligus mengingatkan masyarakat pentingnya kesadaran atas apa yang yang terjadi sekarang.
Bagi Alfiyanto dan Armen Aqick ruang tidak menjadi penting, yang terpenting adalah mendistribusikan “nilai” kepada masyarakat agar menyadari betul apa yang harus dilakukan sesuai dengan profesi dan kreatifitas masing-masing.
Pertunjukan langsung ataupun menggunakan medium virtual pasti memberi “rasa” yang berbeda, tetapi setiap pertunjukan mempunyai benang merahnya adalah “nilai” yang bukan diartikan sebagai angka aritmatika semata.
Sah-sah saja jika seseorang yang mengupas mengenai seniman menyalurkan kreatifitasnya lewat video yang di unggal oleh Alfiyanto dan Amen Aqick tapi jangan lupa dalam setiap pertunjukan yang di tonton langsung dalam gedung pertunjukan akan berbeda “rasanya” dengan menonton video pertunjukan tersebut secara digital.
Karena ruang pertunjukan dengan segala atsmofernya mempunyai daya dukung yang berbeda, begitupun secara virtual “rasanya” juga akan berbeda.
Pertunjukan konvensional dan virtual adalah ranah yang berbeda, tetapi mempunyai kesamaan adalah kreatifitasnya, yang membedakannya adalah persoalan pendistribusian dan teknik penyajiannya agar mampu diserap oleh setiap orang yang menonton yang diharapkan bukan hanya sekedar menikmati atau apresiasi pertunjukan saja tetapi, pertanyaan lebih jauhnya “what are you doing?” Setelah menontonnya.
Video yang di edit dan menghasilkan ketidak teraturan sesungguhnya adalah mendombrak wilayah-wilayah konfensional pada umumnya, inilah kontemporer yang bergerak bebas yang menitik beratkan pada wilayah pemahaman kebijaksanaan di balik ketubuhan seorang penari, musisi, dan apresiator. (*)

Penulis: Jarambahart | Editor: Andi Rohendi

BACA JUGA:  Menyusul Unjuk Rasa BEM SI, Abah Ruskawan Ajak Uji Materi ke MK
Doa Untuk Paramedis
Video Cuplikan Doa untuk Paramedis