Ditengah Pandemi Covid-19, Guru Honorer di Simpenan Sukabumi Sukses Garap Pirus Hidroponik

78
Pandemi
Foto Indra Sopyan/Palabuanratu : Dikdik seorang guru honorer saat memperlihatkan hasil tanaman sayuran metode Hidroponik.
SUKABUMI,jawabarat.indeksnews.com -Ditengah Pandemi seorang Guru Honorer Dikdik asal Kampung Tangkolo, Kecamatan Simpena, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sukses garap pipir imah di urus (belakang rumah) dengan Hidroponik secara alami.

Dikdik mencoba menggarap Hidroponik untuk mengisi physical distancing ditengah pandemi Covid-19, sejumlah kegiatan positif bisa diterapkan untuk mengisi waktu luang selama libur sekolah.

Untuk mengisi selama Pandemi selama delapan bulan trahir, Dikdik memanfaatkan waktu luang ditengah proses belajar mengajar secara nasional di rumahkan/metode pembelajaran Online/Daring oleh pemerintah.

Dikdik memanfaatkan lahan kosong di perkaranagan rumah serta barang bekas, waktu senggang bisa diisi dengan bercocok tanam dengan memanfaatkan teknologi tepat guna pertanian di masa Pandemi.

Bercocok tanam dengan sistem hidroponik merupakan, salah satu cara yang banyak digunakan masyarakat perkotaan dalam bercocok tanam dengan akses lahan terbatas. Dengan penggunaan air pada sistem hidroponik lebih kecil dibanding kebutuhan air dengan budidaya media tanah.

Pandemi
Foto Dokumentasi Indra Sopyan/Palabuanratu.

Menggurita fungsi tanah sebagai media tanam ini digantikan dengan bahan lainnya seperti arang sekam, rockwool, kerikil atau pasir, sementara pemenuhan unsur hara media tanam diberikan dengan larutan nutrisi dari pupuk.

Instalasi yang banyak diterapkan adalah menggunakan pipa PVC atau menggunakan barang bekas seperti botol bekas air mineral.

Secara garis besar, hidroponik mampu menghasilkan tanaman yang sehat, pasalnya tanaman hidroponik tidak menggunakan herbisida maupun pestisida beracun.

Beberapa jenis tanaman yang cocok dengan teknik hidroponik, diantaranya selada, kangkung, bayam, pakcoy, tanaman herbal, dan lain sebagainya.

Dikdik mengaku jika ide awal hidroponik telah ada sejak lama, namun baru bisa dia terapkan saat pandemi, dengan memanfaatkan work from home namun tetap bisa produktif.

“Ide awal konsepnya adalah PIRUS (Pipir Imah di Urus) berawal melihat totirial dari YouTube, konsepnya bagaimana untuk menghijaukan kampung yang dipadukan dengan konsep ramah lingkungan,” kata dikdik.

BACA JUGA:  Ratusan Massa Tolak UU Omnibus Law, Ini Kata Ketua DPRD Yudha Sukmagara

Dikdik mengaku, tidak punya skill dalam bercocok tanam, pemula hanya coba- coba dengan belajar melihat di media sosial dan buku panduan tentang bercocok tanam Hidroponik.

“Dalam masa pandemi, saya coba aplikasikan dan langsung praktek, ternyata memang banyak manfaat, selain penghijauan kampung, ini bisa jadi ekonomi kreatif, dan ini bisa kita kembangkan,” ungkap Dikdik.

Lebih jauh Dikdik mengatakan dulu di dekat kampung Tangkolo, tepatnya di sawah blok tangkolo merupakan area pertanian unggulan di Desa Cibuntu, namun sekarang hanya menjadi area pertanian tadah hujan. Maka dari itu, ia mencoba mengedukasi dengan mengajak masyarakat untuk bercocok tanam hidroponik m

“Ternyata bercocok tanam itu tidak harus di lahan sawah saja, bisa memanfaatkan area pekarangan rumah. Apalagi dalam situasi pandemi ini, warga kami mengikuti anjuran pemerintah dengan di rumah saja. Kegiatan hidroponik ini, selain menaati aturan pemerintah sekaligus menjadi solusi ekonomi bagi masyarakat,” jelas dia.

“Dengan keberhasilan menanam sayuran dengan metode hidroponik, Saya rencanakan untuk menjadi program unggulan ke depan bagi warga kampung Tangkol,” tandas dia.