DKPP Cianjur Akan Alihkan Petani Ikan Jaring Apung di Cirata, Ke Budidaya Ikan di Darat

84
DKPP
Foto Ilustrasi Waduk Cirata Kabupaten Cianjur.
CIANJUR, jawabarat.indkesnews.com – Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Cianjur, Jawa Barat, mengalihkan petani ikan jaring terapung (japung) di Waduk Cirata. Hal tersebut, untuk menjadi petani budidaya ikan di darat untuk meningkatkan produksi ikan air tawar, seiring penertiban jaring terapung yang akan dilakukan hingga tahun 2025.

“Penertiban akan dilakukan pemerintah dalam program Citarum Harum hingga 2025, sehingga nanti yang tersisa hanya 7000 japung yang dapat beroperasi di Waduk Cirata. Ini akan berpengaruh terhadap produksi ikan air tawar di Cianjur,” kata Roosabardina Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Cianjur, Selasa (10/11/20).

Roosabardina mengatakan, Pemkab Cianjur melalui DKPP akan mengupayakan petani ikan air tawar di waduk Cirata yang saat ini berjumlah 37 ribu petak japung. Untuk neralih menjadi pembudidaya ikan di darat, menggunakan bak, kolam atau metode lain, agar kebutuhan ikan air tawar dari beberapa kota besar seperti Jakarta, Bogor dan Bekasi tetap akan terpenuhi.

DKPP
Foto Ilustrasi.

Saat penertiban dilakukan, kata Roosabardina itu akan berdampak terhadap produksi ikan air tawar yang akan mengalami penurunan tajam karena dari 37 ribu petak japung yang ada saaat ini, akan terus dikurangi hingga batas maksimal hanya 7000 japung yang beroperasi di waduk tersebut.

“Selama ini, Cianjur merupakan penghasil ikan air tawar terbesar di Jabar, dengan pasar yang cukup luas hingga ke Provinsi Lampung selain Jabodetabek dan Bandung. Sehingga kita akan tetap tingkatkan produksi ikan air tawar meski tidak di jarung. Namun pembudidayaan dilakukan di darat denga berbagai pola tanam,” paparnya.

Roosabardina menambahkan, sebelum adanya penertiban, jumlah japung di waduk Jangari mencapai 45 ribu petak, namun selama penertiban dilakukan dan saat ini masi terdapat 37 ribu petak japung. Sehingga produksi ikan air tawar tidak terlalu terpengaruh karena sebagian besar japung yang ditertibkan sudah tidak berproduksi.

“Kalau nanti dilakukan secara besar-besaran akan terlihat dampaknya, sehingga sebelum terjadi kami akan mengalihkan para petani agar tetap berproduksi dengan media tanam tidak lagi di waduk, sehingga roda perekonomian mereka tetap berjalan,” tandas dia.**