Donald Trump Akui Kekalahannya, Masa Jabatannya Resmi Berakhir

34
Donald Trump
Foto Dokumentasi : Mantan Presiden AS Donald Trump.
AS,jawabarat.indeksnews.com_ Mantan Presiden Donald Trump mengakui kekalahannya dalam pemilu Pilpres Amerika Serikat (AS) pada 03 November 2021, dan menyatakan akan ada “Transisi yang tertib pada 20 Januari” setelah Kongres mengakhiri penghitungan suara elektoral Kamis pagi, yang menyertifikasi kemenangan presiden terpilih Joe Biden.

Pengakuan Trump Donald muncul setelah kerusuhan dan perusakan di gedung Kongres, Capitol Hill, sewaktu massa pendukungnya menyerbu masuk gedung tersebut dan melakukan kekacauan yang tidak pernah terjadi sebelumnya sewaktu berusaha menghentikan peralihan kekuasaan secara damai. Para anggota Kongres terpaksa bersembunyi, kantor-kantor dijarah, dan penghitungan resmi oleh Kongres dihentikan selama lebih dari enam jam.

“Meskipun saya sama sekali tidak setuju dengan hasil pemilu, dan fakta mendukung saya, namun akan ada transisi secara tertib pada 20 Januari,” kata Trump dalam pernyataan yang diposting di Twitter oleh direktur media sosialnya, Dan Scavino.

Dilansir dari Akun Twitter Trump sendiri telah diblokir karena memposting pesan-pesan yang tampaknya membenarkan serangan terhadap pusat demokrasi negara ini.

Statement by President Donald J. Trump on the Electoral Certification:

“Even though I totally disagree with the outcome of the election, and the facts bear me out, nevertheless there will be an orderly transition on January 20th. I have always said we would continue our…

— Dan Scavino 🇺🇸🦅 (@DanScavino) January 7, 2021.

Trump menambahkan, “Meskipun ini mewakili berakhirnya masa jabatan pertama yang paling hebat dalam sejarah kepresidenan, ini hanya awal dari perjuangan kita untuk Membuat Amerika Hebat Lagi!”

Ini adalah pernyataan di mana untuk pertama kalinya Trump secara resmi mengakui kekalahannya setelah melewatkan waktu dua bulan ini untuk menolak mengakui kekalahan itu dan melontarkan tuduhan-tuduhan tanpa dasar mengenai kecurangan pemilu yang meluas.

Meskipun Departemen Kehakiman, mahkamah federal dan pemerintah negara bagian-negara bagian telah berulang kali menyatakan pemilu itu dilakukan secara bebas dan adil.

Penolakan Trump untuk menerima kenyataan dan retorikanya yang menghasut mencapai titik puncaknya pada hari Rabu, sewaktu para pendukungnya dengan kekerasan menduduki Capitol, dalam salah satu peristiwa paling menggegerkan yang pernah terungkap di sana.

Pihak berwenang menyatakan empat orang tewas dalam kekerasan, termasuk seorang perempuan yang ditembak petugas di luar ruang DPR.**