Menyusul Unjuk Rasa BEM SI, Abah Ruskawan Ajak Uji Materi ke MK

88
Unjuk
Foto Abah Ruskawan (Jas Putih) saat foto bareng Dandim 0607 Kota Sukabumi, Wakil Walikota Sukabumi, APDESI Kabupaten Sukabumi, Dewan Kehormatan dan Kepatuhan Perumda BPR Sukabumi Disela Bincang-bincang di Kampus STH Pasundan, Jalan Pasundan, Kelurahan Nyomplong, Kota Sukabumi.

SUKABUMI-jawabarat.indeksnews.com
-Menyusul aksi unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), kabarnya menyatakan para Selasa (20/10/20) hari ini. Dengan estimasi masa aksi unjuk rasa besar-besaran dengan melibatkan setidaknya 5.000 mahasiswa.

Ketua STH Pasundan Sukabumi, Jawa Barat, menghimbau kepada mahasiswanya maupun lainnya, untuk menahan diri tidak melakukan aksi unjuk rasa, apalagi di Pandemi Covid-19. Akan lebih baik bila mahasiswa melakukan uji materi pada Mahkamah Konstitusi (MK).

“Saya bangga sekaligus mengapresiasi atas apa yang adik-adik mahasiswa lakukan dalam menyatakan ketidak setujuannya atas UU Cipta Kerja ini. Tandannya jiwa demokrasi tertanam pada mahasiswa,” ujar Abah Ruskawan Ketua STH Pasundan Sukabumi, Selasa (20/10/20).

Namun, Abah menyarankan sebaiknya, para adik-adik mahasiswa menyampaikan sikap tidak setuju atas UU Cipta Kerja (Omnibus Law), lewat Yudicial Review ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar lebih elegan dan berkelas.

“Penolakan UU Cipta Kerja dari sejumlah aktivis, mahasiswa maupun organisasi, melalui Yudicial Review ke MK itu lebih baik,” kata Abah yang kental dengan figur pemerhati budayawan di Jawa Barat.

Lanjut Abah, sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam wadah Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), kabarnya menyatakan para Selasa (20/10/20) hari ini. Akan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran dengan melibatkan setidaknya 5.000 mahasiswa.

“Informasinya BEM SI menyatakan akan kembali melakukan aksi unjuk rasa yang meminta agar Presiden Joko Widodo mencabut UU Cipta Kerja hari ini. Abah berharap aksi adik-adik mahasiswa bisa berjalan aman dan tidak ada yang terprovokasi, sampaikan aspirasi dengan humasi,” seloroh Abah.

Abah menambahkan, sebagai warga negara Indonesia yang menganut paham demokrasi, perbedaan pendangan itu merupakan hal yang mutlak. Perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah terjadi.

“Mengingat kondisi saat ini pandemi Covid-19-19, Abah sebagai orang tua, kakak menyarankan untuk adiknya, sebaiknya mahasiswa tidak menggunakan jalur yang menggerakkan massa atau unjuk rasa. Pasalnya, di kawatirkan terjadi penyebaran Covid-19, dan munculnya provokasi dari orang tak bertanggungjawab,” sarannya.

Penyebaran virus Covid-19 yang sedang menjadi penanganan serius bagi Pemerintah dan negara lainnya. Tentunya, penyebaran virus Covid-19 salah satu bisa diyakini penyebar melalui kerumunan orang dan tidaknya menggunakan masker dan lainya.

“Saya berharap adik-adik mahasiswa dengan kondisi Pandemi Covid-19 saat ini, menyalurkan aspirasi melalui jalur konstitusi yakni uji materi di Mahkamah Konstitusi,” tandas Abah.(Red*)