Musim Penghujan Melanda, Pengrajin Gula Aren di Sukabumi Galau

231
Cuaca ekstrim musim penghujan sejumlah pengrajin gula aren di sejumlah Kecamatan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami penurunan.

SUKABUMI I Kondisi yang dialami para pengrajin gula aren dirasakan beberapa bulan terakhir. Pasalnya, sadapan biang gula aren terhambat dengan cuaca,  selain susah untuk memanjat ditambah sadapan sering tercampur air hujan.

Informasi yang di rangkum dari Bah Sanusi (59) pengrajin gula aren asal Kecamatan Nyalindung, mengatakan, selama musim penghujan hasil produksinya mengalami penurunan. Pasalnya, meski banyak pesanan namun dengan cuaca musim penghujan,  membuat kesulitan dalam memasang alat sadapan.

“Pohon aren kondisinya licin kang (Bang), kalo musim hujan gini. Untuk mengsiasati sadapan tidak dilakukan setiap hari, paling sekarang satu minggu dua kali saja,  itu pun liat kondisi cuaca kalo tidak hujan, “ujar Sanusi .

Loading...

Musim Penghujan Melanda, Pengrajin Gula Aren di Sukabumi Galau 1

Lanjut Sanusi, untuk bahan baku gulan aren yang diambil dari nira, dihasilkan dari setiap pohon kelapa atau aren. Itu akan sangat sulit dilakukan karena paktor cuaca hujan. Otomatis, harga gula aren yang dihasilkan dari sadapan, hingga di olah menjadi gula merah sedikit naik dari harga biasanya.

“Saat ini peminat gula aren asli buat saya selalu banyak.  Gula aren buatan pengrajin seperti kami masih dengan cara tradisonal dalam cara pengolahanya sangat diminati. Mulai dari rasa sangat berbeda dengan gula aren yang dibuat denga mesin, tak jarang banyak orang kota yang datang membeli untuk oleh-oleh,” aku Sanusi.

Hal senada dikatakan Ibu Sumi (40) warga Desa/Kecamatan Waluran mengakui, ditiap hari dirinya memproduksi gula aren dari tira yang disadap Soleh (53) suaminya, itu mampu memproduksi biang nira sebanyak 50 liter, kalo saat kondisi cuaca tidak hujan bisa mencapai 100 liter.

BACA JUGA:  Satgas Preventif Ops Lilin Lodaya 2019 Polres Sukabumi Amankan 11 Pelaku Pungli Dijalur Wisata

“Sekarang hujan terus, produksi gula merah yang dihasilkan sedikit menurun, yang biasanya hanya sekitar 100 liter, sekarang hanya 50 liter sangat menurun, mau gimana pohonya licin. Untuk menutupi pesanan kadang tak tercukupi,” kata ibu tiga anak ini.

Sumi mengakui, menurunya hasil produksi gula sangat berdampak terhadap pendapatan hasil penjualan gula merah. Saat hari  biasa pendapatan rata-rata hasil penjualan gula bisa mencapai Rp 300-400 ribu, namun cuaca musim penghujan hanya bisa mencapai Rp 200 ribu perhari.

“Kendala utama hujan yang paling menyulitkan. Selain sulit mengambil sadapan biang nira diatas pohon kelapa sangat licin. Namun melihat kondisi saat ini harga gula pun sedikit mengalami kenaikan dari harga sebelumnya Rp 25-30 ribu/kg sekarang bisa Rp 50-60 ribu/kilo atau perbonjor (4-5 buah),” jelasnya.

Sumi mengatakan selama musim penghujan kali ini,  pesanan gula akan terus meningkat kemungkinan hasil produksi gula merah akan mengalami kenaikan harga dan pesanan. Meski kendala para pengrajin sangat kesulitan mengambil biang nira dari atas pohon kelapa karena paktor cuaca.

“Saya yakin melihat cuaca hujan seperti ini, para pengrajin gula aren tradisional seperti kami, tidak bisa berspukulasi atau berusaha nekad mengambil biang nira, dengan memaksakan menyadap nira naik ketas pohon dalam kondisi hujan dan licin, resiko terjatuh dan hasil sadapan kurang bagus,” papar Soleh.

Resiko bahaya, Soleh memilih untuk menunggu momentum tepat. Pasalnya, kalo dipaksakan akan membahayakan dan mengancam juga biang akan tercampur air hujan.

“Saya selalu mensiasatinya dengan mengambil nira setiap dua hari sekali hingga hasil nira banyak, itupun liat situasi cuaca. Yang penting bisa menghasilkan gula dengan kualitas terbaik,” tandasnya.

BACA JUGA:  DPMPTSP Kota Sukabumi Terkesan Diam Seribu Bahasa, Ada Apa Gerangan?

Reporter : Indra Sopyan**

loading...