Perdana Menteri Scott Morrison Strees, Militer Australia Bantai Puluhan Tahanan di Afghanistan

77
Perdana Menteri
Foto Perdana Menteri Australia.
JAKARTA,jawabarat.indeksnews.com-
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengaku stres mendapat laporan pasukan militernya dikabarkan membantai 39 tahanan di Afghanistan. Menurut dia, kabar tersebut kalo benar-benar terbukti itu sangat mengerikan dan jadi catatan buruk kemiliteran Negara Australia.

“Ini benar-benar kabar buruk, laporan yang tentunya mengerikan dan memusingkan pemerintahan kami,” ujar Perdana Menteri Morrison, dilansir Tempo, Sabtu (21/11/20) kemarin.

Masalah laporan pembantaian tersebut, Perdana Menteri Morrison mengaku baru pertama kali menjadi di kepemimpinannya menjabat perdana menteri Australia. Sempet perhatian publik pada tahun 2017, ketika media asal Australia, ABC, menerbitkan “Afghan Files.

“Saat itu pasukan Australia dilaporkan membunuh pria dan anak-anak tak bersenjata di Afghanistan selama beroperasi di sana. Keberadaan militer Australia di Afghanistan sendiri adalah bagian dari ‘War on Terror’ pasca peristiwa 911 di Amerika,” papar Perdana Menteri Morrison.

Pada saat itu, kurang lebih 26 ribu personil militer dikirim ke Afghanistan untuk membantu Amerika Serikat (AS) melawan kelompok teroris Taliban dan Al-Qaeda. Setelah kabar pada Kamis kemarin (19/11/20) adanya laporan yang lebih lengkap soal pasukannya di Afghanistan dibuka ke publik.

“Hal tersebut menyusul adanya permintaan keterangan soal aktivitas militer Australia di Afghanistan dari 2005 hingga 2016. Hasilnya mengejutkan. Menurut laporan yang dibuka, personil senior militer Australia mendesak juniornya untuk membunuh tahanan-tahanan yang tidak bersenjata,” paparnya.

Morrison, ia menjamin kejahatan militer ini akan diusut tuntas dan sesuai hukum yang berlaku. “Kami akan menindak masalah tersebut dan kami akan mengacu pada hukum serta sistem yang berlaku di sini,” ujar Morrison menegaskan janjinya.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison dikabarkan telah menghubungi Presiden Afghanistan Ashraf Gani terkait kebenaran ini. Ia juga telah menunjuk penyelidik khusus untuk melakukan penuntutan. Tim independen juga dibentuk guna mendorong perubahan budaya dan kepemimpinan dalam angkatan bersenjata.

Pemerintah Australia sebelumnya telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba menyangkal investigasi tentang kebrutalan militernya di Afghanistan. Aparat keamanan bahkan sempat menyelidiki wartawan yang mengungkap isu terkait.*

Jenderal Angus Campbell dari Militer Australia membenarkan isi laporan itu. Ia mengakui bahwa pasukannya telah membunuh 39 warga sipil dan tahanan di Afghanistan. Atas hal itu, ia meminta maaf dan menyebut hal itu akan selalu menjadi catatan hitam dalam hubungan Australia-Afghanistan.

Menurut Campbell, ada 25 anggota pasukan khusus Australia yang terlibat dalam pembantaian terkait. Kabar terakhir, sebanyak 19 anggota dan mantan pasukan militer akan diserahkan ke penyelidik kejahatan militer untuk menentukan apakah ada bukti yang cukup?.**