Petani Buah Kelapa di Sukabumi Mengalami Peningkatan Pendapatan Meski Pandemi Covid-19

119
Petani
Foto Dokumentasi : Petani Buah Kelapa di Sukabumi saat mengemas buah kelapa untuk dijual kepada konsumen.
SUKABUMI,jawabarat.indeksnews.com -Sejumlah petani buah kelapa asal Kampung Lewidingding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, selama empat bulan terakhir mengalami peningkatan pendapatan dari hasil penjualan buah kelapa.

Meski di tengah dampak Pandemi Covid-19, tidak menyusutkan minat konsumen untuk membeli buah kelapa dari para petani langsung, baik untuk konsumsi secara original maupun untuk keperluan bagian bahan baku gula merah kelapa dan lainya.

“Alhamdulillah selama tiga-empat bulan terakhir ini, jumlah permintaan kebutuhan buah kelapa tak terbendung. Malah untuk mengucukupi permintaan pasar maupun pengrajin gula dan lainya, saya harus mencari dan membeli secara jumlah banyak ke pemilik pohon kelapa di luar daerah,” kata Sumarna (59) salah seorang petani kelapa dan gula asal Kampung Lewidingding, Desa Tanjungsari, Rabu (18/11/20).

Apalagi ditengah Pandemi Covid-19, petani buah kelapa mengaku mendapat keberkahan dengan banyak permintaan buah kelapa untuk bahan gula kelapa, bahan baku makanan maupun pemanis original es kelapa muda. Mulai dari kelapa muda sampai kelapa tua, bahkan kampas juga batok kelapa bisa menjadi pundi-pundi rupiah.

Petani
Foto Dokumentasi : Pengrajin gula merah saat mengolah bahan gula dengan bahan baku buah kelapa.

“Harga kelapa saat ini dipasaran mengalami kenaikan sekitar 40 pesen, dimana sebelumnya satu buah kelapa Rp 4.000-5.000/buah, sekarang dikisaran Rp 9.000-10.000/buah. Ditambah tingkat kesulitan memanjat pohon karena curah hujan dan ketersediaan di pohon kelapa di kebun pribadi mulai menipis, terpaksa harus mencari kedaerah lain,” beber Sumarna.

Sumarma mengakui, selama musim penghujan yang kerap meningkat, hasil rata-rata setiap harinya bisa menghasilkan 40 buah perpohon di musim kemarau, kini hanya bisa mencapai 30 buah perpohon. Kalo tidak licin kondisi pohon bisa lebih dari 30.

“Jadi saat ini yang dihasilkan perpohon sebenarnya bisa naik drastis hingga separohnya, kenaikan harga adalah salah satu faktor tingkat kesulitan saat mengambil buah kelapa yang tingginya hampir puluha meter,” jales dia.

Lanjut Sumarna, kenaikan dari hasil pendapatan dari buah kelapa dari perpohon sangat berdampak terhadap pendapatan hasil penjualan kelapa setiap harinya. Saat cuaca normal pendapatan rata-rata hasil penjualan gula bisa mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 1.200.000 perhari.

“Saat kondisi cuaca hujan seperti sekarang ini pendapatan dari hasil penjualan kelapa mengalami peningkatan kosumen, tingkat kesulitan memetik buah kelapa yang menjadi salah satu kenaikan harga di tingkat petani, tengkulak sampai pasar,” tandas dia.

Sumarni (44) pedang buah kelapa di Pasar Tradisional Pangleseran, Kecamatan Cikembar mengaku, menjual satu buah kelapa tua yang sudah dibersihkan Rp 13.000, kalo di bubut untuk kebutuhan santen ada biaya tambahan sebesar Rp 2.000/perbuah.

“Ya, meskipun dikatakan harga satu buah kelapa sekarang mengalami kenaikan, dimana sebelumnya di harga Rp 6.000_7.000, tapi banyak konsumen dikalangan ibu-ibu untuk kebutuhan masak maupun bahan campuran adonan kue yang lebih memilih santen kelapa asli dari pada yang kemasan instan,” tandas Sumarni.**