STH Pasundan Sukabumi, Paparkan Sisi Hukum Perikatan Maulid Nabi Muhammad SAW

101
STH Pasundan
Foto : Ketua Baznas Kabupaten Sukabumi H. Unang Sudarma, disela mengisi tausyiah maulid Nabi Muhammad Saw di Kampus STH Pasundan, Jum'at (06/11/20).
SUKABUMI,jawabarat.indeksnews.com _ Ketua STH Pasundan Sukabumi Dr. Abah Ruskawan, MM mengupas sedikit arti hukum dan keutamaan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H yang jatuh pada hari ini, Kamis (29/10/20). Maulid Nabi merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.

Abah Ruskawan sebagi pucuk pimpinan STH Pasundan memaparkan lebih lanjut terkait hukum dan keutamaan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid artinya kelahiran, sementara Maulud itu artinya orang yang dilahirkan.

“Hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada dasarnya mubah. Jadi ini hal-hal yang bukan sebuah keharusan, mendapatkan pahala dalam level-level tertentu juga tidak, tapi bagi umat Islam akan selalu diperingati, bentuk kecintaan terhadap nabi Muhammad SAW,” jelas Abah Ruskawan di sela rangkaian peringati Maulid Nabi SAW STH Pasundan Sukabumi, di Kampus STH Pasundan Jalan Pasundan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Jum’at (06/11/20) pagi ini.

STH Pasundan
Foto : Mahasiswa STH Pasundan khusu hadiri maulid Nabi Muhammad Saw di Kampus STH Pasundan Sukabumi.

Sementara itu, H Unang Sudarma Ketua Baznas Kabupaten Sukabumi mengaku bangga dan ucap terimakasih kepada keluarga besar STH Pasundan, yang tetap mempertahankan kecintaan terhadap Nabi Besar Muhammad SAW.

“Satu kehormatan bagi saya, bisa hadir mengisi tausyiah maulid nabi Muhammad Saw bersama mahasiswa dan keluarga besar STH Pasundan, semoga ini jadi agenda rutinan yang tetap dipertahankan oleh regenerasi seterusnya,” kata H. Unang Sudarma.

Lanjut Aang sapaan akrab Ketua Baznas periode 2020_2025, Maulid ini isinya merupakan sesuatu yang mengandung pahala.

“Ada ayat yang menjelaskan tentang Allah SWT dan Malaikat itu bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kenapa kita tidak? Untuk itu mari bersama-sama kita meriahkan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW dengan protokol kesehatan dan hikmat,” ujar Unang.

Ditempat yang sama H. Bowo Direktur Umum dan Dewan Kepatuhan Perumda BPR Sukabumi mengatakan, menurutnya, maulid nabi atau muludan itu merupakan budaya, ulama-ulama muslim yang sepakat bahwa kebiasaan baik perlu dilestarikan dan adakan, sebagai bentuk pembuktian sebagai umat Islam.

Dalam hadist nabi dinyatakan bahwa ‘barang siapa yang mewariskan sunnah atau kebiasaan yang baik ketika ada seorang yang meniru, kita mendapatkan pahala dua kali lipat’.

“Kita mendapatkan pahala dari apa yang kita lakukan, lalu kita mendapatkan pahala dari orang yang melakukan karena kita pernah melakukannya dan dicontoh oleh orang tersebut,” ungkap H. Bowo yang juga sebagai alumni STH Pasundan Sukabumi.

Selanjutnya, terkait perayaan Maulid Nabi pada tahun ini di tengah pandemi, Bowo menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi kali ini, diharapkan umat muslim yang memperingati kelahirannya, agar bisa menerapkan Protokol Kesehatan sesuai arahan Pemerintah 3M.

“Kita tidak perlu mempertaruhkan apa yang dianggap sesuatu yang berbahaya, semoga Covid-19 bisa segera berlalu dan jangan anggap sepele, protokol kesehatan memakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak 3M,” tandasnya.**