Tengkulak di Sukabumi Menjerit Abadi, Buah Pisang dan Sayuran Membusuk di Perjalanan

204
Tengkulak
Foto Dokumentasi : Tengkulak bauh pisang saat mengemas pisang untuk dijual di Pasar Induk Jakarta.
SUKABUMI,jawabarat.indeksnews.com _Sejumlah tengkulak buah-buahan dan sayur mayur asal Pajampangan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, galau abadi dengan kondisi jalan Provinsi maupun Kabupaten masih banyak kerusakan dan amblas. Ditambah kemacetan masih jadi historis di beberapa titik-titik Kabupaten Sukabumi.

Akibat historis kemacetan dan kerusakan/ambalas kerap dilontarkan para tengkulak jadi alasan utama, buah-buahan maupun sayur mayur membusuk di tengah perjalanan. Kemacetan utama yang tiap hari tidak bisa dihindari diantranya Jalan Cisaat-Cibaraja, Cibadak-Pamuruyan dan Parungkuda-Cicurug.

Dengan kondisi karusakan dan kemacetan yang dirasakan sejumlah tengkulak buah-buahan dan sayur mayur asal Pajampangan mengukapkan, ruas jalan di Sagaranten maupun Surade saat ini masih banyak titik jalan rusak dan rawan amblas maupun longsor. Ditambah jalan menuju Utara Sukabumi banyak titik kemacetan yang tidak bisa dihindari.

“Saya seminggu tiga_empat kali membawa buah pisang untuk dijual ke Pasar Induk Jakarta. Bisa dibayangkan jarak Pajampangan_Tol Ciawi_Pasar Induk bisa menempuh ratusan kilo meter, dan 3_6 Jam, belum akibat kemacetan bisa memakan waktu 3_4 Jam ataupun lebih, pasalnya lama kemacetan tidak bisa di prediksi,” kata H Suarna (50), tengkulak buah-buahan asal Kampung Bojongsari,  Desa/Kecamatan Surade, Jum’at (06/11/20).

H Suarna yang mengaku sudah 15 tahun berprofesi tengkulak mengatakan kondisi jalan rusak,  kemacetan,  di tambah cuaca hujan, dan ditengah Pandemi Covid-19. Banyak barang buah pisang dan sayuran yang saya bawa sering menderita kerugian karena barang yang saya kirim ke Jakarta sudah dalam keadaan layu bahkab busuk. Akibatnya,  nilai harga jual buah pisang dan sayuran jadi turun drastis.

“Setiap kali mengirimkan buah-buahan berupa pisang yang dikumpulkan dari para petani di Pajampangan, perjalanannya pada siang hari dan brangkat sore hari dan tengah malam baru bisa nyampe tujuan Pasar Induk Jakarta,” jelas tengkulak khusus buah pisang.

Anwari (55) tengkulah buah-buahan maupun sayur mayur asal Kampung Curugkembar,  Kecamatan Sagaranten, mengaku dalam usaha buah-buahan, barang biasanya terkumpul pada siang hari. Jadi tidak boleh ada penundaan, saat itu juga harus langsung dikirimkan ke Jakarta maupun tangerang. Kalau pengirimannya tertunda malah dapat membusuk di tempat penyimpanan/gudang.

“Selama perjalanan dari Sukabumi-Jakarta sering dihadapkan oleh kondisi kerusakan jembatan hingga kemacetan, untuk sampai ke Pasar Induk Jakarta kondisi buah-buahan maupun sayur mayur sudah layu dan busuk. Karena terlalu lama dijalan rasa manisnya pun menjadi berkurang akibat fermentasi,” papar Anwari.

Menurut para tengkulak buah-buahan dan sayuran mayur seperti H Suarna dan Anwari, hal tersebut harus menjadi perhatian serius dan penting bagi Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Daerah. Agar bisa saling berkolaborasi mencari solusi atas yang dirasakan para tengkulak, bahkan histori kemacetan dibeberapa jalan di Sukabumi Utara. Hal tersebut masih jadi sorotan ditengah Pandemi Covid-19 dan Pilkada.

“Kemacetan ini sudah jadi momok sorotan masyarakat, khususnya para tengkulak buah-buahan maupun sayuran diwilayah Pajampangan Sukabumi. Untuk itu, berharap ada solusi nyata dari para pamengku pemerintahan, untuk bisa melerai kemacetan-kemacetan dan kerusakan jalan yang sampai saat ini masih abadi dirasakan masyarakat,” cetus dia.**